"Menjadi Pusat Belajar dan Pengembangan Pelayanan Kaum Muda di Indonesia" Melakukan penelitian dan kajian pelayanan kaum muda dengan basis teologi dan menyediakan sumber belajar bagi pengembangan pelayanan kaum muda.

Selasa, 20 Februari 2018

Simposium Pelayanan Kaum Muda VI



Simposium Pelayanan Kaum Muda VI

“Transformational Youth Ministry”


Banyak ditemui bahwa pelayanan kaum muda digerakkan oleh “big event”.  Big event disini seperti retreat, kebaktian Kebangunan Rohani, atau bahkan ibadah minggu itu sendiri. Di dalam “big event” semakin banyak pengunjung yang datang, maka acara itu dianggap berhasil. Tapi sesungguhnya kaum muda membutuhkan sesuatu yang lebih dalam, dan lebih bermakna.  Permasalahan dan tantang kaum muda jauh lebih kompleks dan pelik baik di dalam dirinya dan juga konteks hidupnya. Mereka membutuhkan lebih dari sekedar peristiwa besar dan keramaian, tapi adanya ruang atau kesempatan untuk mereka belajar menemukan makna, dan mengalami transformasi. 

Gereja yang kecil dengan jumlah kaum muda hanya 20 atau 30 sering dianggap tidak berhasil dan tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal mereka memiliki kesempatan yang cukup besar untuk menciptakan moment yang membawa perubahan, tanpa harus menggunakan “big event” dan keramaian. Pelayanan kaum muda dapat menjadi pelayanan yang mengubahkan bila youth pastor mengerti aspek-aspek yang perlu dikembangkan sehingga terjadi transformasi dalam kehidupan kaum mudanya. Seperti apakah pelayanan kaum muda yang transformatif?

Untuk Informasi dan Pendaftaran http://sttaa.ac.id/spkm_2018 



Konsep Religious Affections Jonathan Edward dalam konteks Pelayanan Pastoral Kaum Muda Gereja Injili



Konsep Religious Affections Jonathan Edward
dalam konteks Pelayanan Pastoral Kaum Muda Gereja Injili
Jonathan Prasetia


Pendahuluan
Salah satu bidang pelayanan yang sedang marak dibicarakan oleh gereja-gereja hari ini adalah berkenaan dengan pelayanan kaum muda. Mark DeVries, seorang youth pastor, berkata, We are sending our kids into adulthood ill prepared for the increasing demands od our complex society.[1] Individu yang menginjak usia remaja-pemuda sedang mengalami pencarian akan identitas diri dan mempertanyakan Tuhan, sehingga mereka mengalami gejolak emosional, kognitif, dan spiritual.[2] Oleh sebab itu, apabila ibadah terasa kering, mereka akan cepat merasa bosan dan mencari gereja lain, di mana kebutuhan pengalaman akan Tuhan dapat dipenuhi. Dengan demikian pelayanan pastoral kaum muda sangat membutuhkan konsep kerohanian yang sesuai dengan gejolak jiwanya. Ketika kaum muda tidak mendapatkan kerohanian yang tepat sasaran dan pengalaman rohani yang nyata, maka kemungkinan besar mereka akan meninggalkan gereja.
Sebenarnya ada banyak warisan spiritualitas dari bapa-bapa gereja, namun tidak semuanya tepat sasaran bagi pendekatan pastoral kaum muda. Jonathan Edwards merupakan seorang gembala, pengkhotbah, teolog terbesar sepanjang sejarah yang memiliki fokus dengan pengalaman religius. Konsep Religious Affections yang tercetus dari lubuk hatinya merupakan salah satu konsep pengalaman religius yang alkitabiah. Berdasarkan teologinya, Edwards yang beraliran Calvinis, dikenal karena menyatukan semangat penginjilan dan keingintahuan intelektual dalam tulisan-tulisannya.[3] Selain itu, afeksinya dalam berkhotbah selalu meninggikan Allah dan tidak pernah berhenti memuji Allah.[4] Dalam diri Edwards, dapat dilihat keseluruhan pribadi, baik hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan yang diserahkan kepada Allah.[5] Ini membuktikan konsep spiritualitas Jonathan Edwards yang mewujudkan keseimbangan dan alkitabiah, layak untuk menjawab pergumulan pelayanan pastoral kaum muda di gereja masa kini.
Artikel ini memperkenalkan salah satu konsep spiritualitas Jonathan Edwards, serta salah satu pergumulan pelayanan pastoral kaum muda di gereja-gereja injili, dan kemudian mencoba menjawab pergumulan pelayanan tersebut dengan konsep tersebut serta diakhiri dengan tantangan bagi gereja-gereja injili ketika menghadapi pelayanan pastoral kaum muda.................





[1]. Mark DeVries, Family Based Youth Ministry (Illinois: Intervarsity Press, 2004), 35.
[2]. Charles M. Shelton, Spiritualitas Kaum Muda (Jakarta: Kanisius, 1987), 66.
[3]. Wilfred J. Samuel, Kristen Kharismatik: Refleksi atas Berbagai Kecenderungan Pasca Kharismatik (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 15.
[4]. John Piper, Supremasi Allah dalam Khotbah (Surabaya: Momentum, 2008), 80.
[5]. Stephen J. Nicholls, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikirannya (Surabaya: Momentum, 2009), 6.