Rabu, 01 Mei 2013

SENI DALAM PELAYANAN KAUM MUDA



SENI DALAM PELAYANAN KAUM MUDA
Astri Sinaga, M.Th.


Introduksi
Seni dan kaum muda adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  Berbagai bentuk-bentuk seni mewarnai keseharian kaum muda bahkan mereka aktif terlibat di dalamnya. Musik, cerita dan visual secara silih berganti memasuki alam pikiran mereka yang disalurkan oleh kekutan teknologi media. Sebuah penelitian mengatakan bahwa seorang  pemuda menghabiskan waktu mereka memperhatikan atau terlibat dengan teknologi media selama 6,5 jam setiap hari yang di dalamnya sebagian besar adalah bentuk-bentuk seni seperti musik, cerita, dan visual.[1] Mereka mendengarkan musik ketika berada di angkutan umum, di kamar, di mall, ataupun dalam kehidupan komunitas. Mereka menuliskan cerita mereka  di berbagai media sosial, memperhatikan juga cerita orang lain dan berdialog dengan cerita itu, menulis jurnal pribadi  dalam  blog sebagai ekspresi dan aktualisasi diri. Kaum muda juga menuangkan pikiran dan ekspresi  mereka dalam berbagai bentuk dan saluran yaitu media sosial, teknologi, bentuk-bentuk seni seperti musik, tari, olah tubuh, disain grafis, graffiti, dan lain lain.
Begitu dekatnya seni dengan kehidupan kaum muda, bahkan bentuk-bentuk seni yang dipelopori kaum muda telah membentuk budaya tersendiri yang disebut youth culture atau budaya kaum muda. Secara aktif kaum muda membentuk dan dibentuk oleh budaya kaum muda,[2] bahkan mereka berenang di dalamnya, hidup di dalamnya seperti ikan hidup di dalam air.  Pelayanan kaum muda tidak boleh menutup mata atas kekuatan seni yang sebenarnya juga dapat menjadi kekuatan penting dalam menjangkau, membina dan memperlengkapi kaum muda untuk kehidupan spiritual yang lebih baik.  Tapi seni dengan kekuatannya bila tidak dikelola dengan benar sesuai dengan disain Allah meletakkan fungsi seni dalam kapasitas manusia, maka seni pun dapat menjauhkan kaum muda dari kehidupan ibadah kepada Tuhan. Dengan demikian perlu ada pembingkaian yang menolong pelayan kaum muda dalam melibatkan bentuk-bentuk seni dalam pelayanan kaum muda. Dari begitu banyaknya bentuk seni, penulis hanya membatasi bentuk seni dalam musik, cerita dan gambar.
Musik, cerita dan gambar dalam budaya kaum muda
Banyak teori-teori yang dihasilkan oleh para ahli  psikologi perkembangan yang menjelaskan keunikan kaum muda. Teori-teori ini banyak menolong pelayan kaum muda untuk mengerti bagaimana kondisi seorang remaja atau pemuda dalam berbagai aspek seperti bagaimana mereka menangkap informasi, bagaimana mereka mengambil keputusan moral, menghadapi krisis dan sebagainya.  Tapi kaum muda tidak tumbuh dalam kevakuman melainkan dalam konteks masa dan waktu tertentu.  Salah satu tanda yang jelas untuk melihat siapakah kaum muda adalah dengan cara melihat kepada budaya kaum muda itu sendiri.  Tidak semua kaum muda terlibat langsung dengan bentuk-bentuk seni, tapi mereka secara tidak langsung terlibat dalam gaya hidup yang didalamnya terdapat unsur-unsur seni. Seni sebagai budaya kaum muda dapat menjadi peta untuk melihat apa yang terjadi dengan kaum muda saat ini. Namun cara kaum muda berinteraksi dengan bentuk-bentuk seni ini berbeda dengan orang dewasa atau generasi sebelumnya. Berikut ini adalah gambaran betapa dekatnya kaum muda dengan bentuk-bentuk seni yang memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan kaum muda.
Musik.  Bagaimana kaum muda memandang musik mengalami perubahan dari masa ke masa bersamaan dengan berkembangnya teknologi. Di masa yang lalu, ketika orang masih banyak mendengar musik lewat media radio, maka kata-kata menjadi perhatian para penggubah lagu.  Orang menikmati lagu-lagu dari kata-katanya yang bercerita dan dapat mewakili isi hati yang sedang mendengarkan.  Namun ketika era media TV mengambil tempat yang lebih utama maka kata-kata  dalam sebuah lagu juga tidak lagi menjadi yang utama, tapi bagaimana penyanyi itu terlihat membawakannya menjadi penting. Seorang penyanyi dan lagu yang dibawakannya menjadi menyatu, karena orang bukan hanya menikmati lagu, tapi juga penyanyi yang membawakannya. Seorang penyanyi akhirnya mempengaruhi penggemarnya bukan hanya lewat lagu-lagunya tapi juga lewat kehidupannya di balik panggung. Saat ini ketika kaum muda hidup dalam era “multi – layar” atau multi-screen, musik dinikmati dengan cara yang berbeda.  Ketika seorang pemuda memiliki perangkat media lebih dari dua, misalnya: handphone, tablet, dan laptop, maka musik yang berbunyi di telinganya sementara dia duduk di tengah angkutan umum sambil membaca e-book dalam tabletnya, musik itu hanya menjadi sebuah “suara”. Lagu tidak lagi didengar untuk diperhatikan dan didengar dengan seksama, tapi sebagai latar belakang suara ketika pekerjaan lain dilakukan. Tapi sebenarnya “suara” itu memberikan koneksi yang dapat menghubungkan dan membangun suatu rasa di dalam diri, entah itu rasa nyaman, tenang, ataupun marah dan tergesa-gesa.[3] Jadi walaupun nampaknya perilaku kaum muda mendengar musik terlihat sebagai suatu selingan atau latar belakang, tetap saja musik itu sedang membangun sesuatu di dalam diri yang mendengarkannya.
Cerita. Teknologi menuangkan cerita dalam berbagai bentuk; film, TV, buku, internet, blog, jejaring sosial dan sebagainya. Di masa lalu umumnya kaum muda senang membaca cerita dalam buku-buku yang sebenarnya tidak terkait apa-apa dengan dirinya. Dalam cerita-cerita itu mereka mengidentifikasi diri mereka dengan karakter-karakter yang ada di dalam cerita itu. Tapi saat ini kaum muda juga senang ‘menceritakan’ dirinya sendiri kepada orang lain bahkan secara luas lewat media social. Sebuah ‘status’ yang mereka tuliskan dalam di media social nampaknya memang pendek karena hanya terdiri dari 1 kalimat, tapi “status” itu sebenarnya suatu upaya kaum muda sedang menceritakan dirinya. Lewat status di jejaring sosial, kaum muda berkomunikasi dengan dunianya dan orang dewasa seringkali tidak sanggup menangkap apa yang sebenarnya mereka sedang komunikasikan. 
Gambar. Kaum muda saat ini sangat memerlukan visualisasi yang sama besarnya dengan apa yang mereka dengar. Teknologi telah membiasakan penglihatan mereka dengan berbagai warna, bentuk dan tampilan yang menarik.   Gambar memang dapat mengandung banyak kata, itu sebabnya  gambar dapat mengkomunikasikan banyak hal kepada yang melihatnya bahkan lebih banyak dari kata-kata.[4] Gambar dan kata memiliki kekuatannya sendiri dan memberikan dampak dengan cara yang berbeda. Kata-kata membuat orang berpikir dan berimaginasi, sementara gambar membuat seseorang merasakan dan tidak  perlu berimaginasi seperti mendengar kata-kata karena dia melihat detail dari gambar itu.  Gambar-gambar dan visual yang muncul di hadapan kaum muda lewat interaksi mereka dengan teknologi memberikan pengertian kepada mereka apa yang disebut indah, cantik, ganteng, keren,teratur, tidak teratur, sempurna, tidak sempurna dan sebagainya. Detail gambar bahkan membuat kaum muda dimanjakan penglihatannya dan melemahkan fungsi imaginasi dan akhirnya gambar hanya memberikan kesenangan semata.[5]
Untuk mengenal kaum muda dengan lebih baik, seseorang harus juga mengenal bentuk-bentuk seni yang menjadi budaya kaum muda. Di dalam lagu-lagu yang dinyanyikan mereka tersimpan cara pikir yang mempengaruhi mereka ketika mereka menyanyikannya ataupun  mendengarkannya. 
Mengenali Seni yang ada di tengah kaum muda
Dengan Musik, cerita, dan gambar, kaum muda membangun budayanya sendiri. Mereka berbicara dengan “bahasa” yang berbeda dan mengerti dengan cara yang berbeda. Budaya kaum muda yang tumbuh di tengah-tengah budaya dominan menciptakan jurang perbedaan di antara generasi,  yang seringkali orang dewasa sulit untuk mengerti kecuali mereka masuk dan berada di dalamnya, mendengar apa yang mereka dengar, melihat apa yang mereka lihat dan bicarakan. Di dalam perbedaan budaya itu, maka Walt Mueller memangdang pelayanan kepada kaum muda sebenarnya juga dapat dilihat sebagai “cross-cultural” Ministry  atau pelayanan lintas budaya.[6] Layaknya seorang misionari yang ingin melayani ke luar negeri dengan kebudayaan yang berbeda, maka dia juga harus mempersiapkan diri mengenal budayanya, mempelajari bahasa dan kebiasaannya. Demikian jugalah seorang pelayan kaum muda seharusnya berupaya untuk mengenali budaya kaum muda, walaupun secara geografis mereka tinggal di daerah yang sama.  Mengenai upaya untuk mengerti budaya kaum muda ini, Pamela Erwin menganjurkan agar pelayan kaum muda memiliki ketrampilan ethnografi[7]. Ketrampilan yang utama dari seorang ethnografer adalah berada di tengah-tengah konteks melakukan observasi dari dekat dan memberikan pertanyaan serta analisa yang mendalam. Dengan cara inilah pelayan kaum muda dapat memahami apa yang terjadi pada kaum muda dan dapat melayani mereka dengan lebih bijak.


Seni  dapat membawa kaum muda mengalami Tuhan dengan lebih baik
Ketika berhadapan dengan penggunaan seni dalam pelayanan kaum muda, ada 2 sikap yang sangat mungkin diambil oleh gereja: yang pertama adalah mengakomodasi budaya tersebut, dan yang kedua menciptakan “bunker” untuk melindungi jemaat dari apa yang mereka percaya sebagai pengaruh buruk.[8]  Selain kedua sikap ini , yang ketiga dan yang dianggap paling sulit adalah melakukan transformasi.
Sikap akomodasi berarti tanpa sikap kritis dan menganalisanya dengan baik, pelayanan  kaum muda membuka dirinya terhadap berbagai bentuk seni, hanya supaya tempat ibadah mereka dipenuhi oleh kaum muda dan sebanyak mungkin kaum muda merasa nyaman di dalamnya.  Ketika bentuk seni dipakai tanpa adanya pemahaman yang menjadi muatan nilai di dalam bentuk seni itu, maka yang tercipta di dalam penggunaanya hanyalah kenikmatan dan rasa nyaman. Musik memang bisa memuat makna yang lebih dari kata-kata, tapi musik juga bisa membuat pendengarnya hanya berhenti pada rasa nikmat dan senang. Kaum muda tidak perlu keluar dari gereja untuk menjauh dari Tuhan yang seharus nya disembah, tapi justru ketika mereka masih ada di dalam gereja dan terlibat dengan begitu banyak pelayanan yang melibatkan seni, justru mereka menjauh dari Tuhan. Seni justru menjadi tembok yang  berdiri di antara mereka dan Tuhan; tidak menolong mereka untuk mengalami Tuhan dengan baik, tapi jatuh kepada leasure atau kesenangan diri. Ketika diri menjadi pusat ekspresi seni, maka tempat dimana Tuhan seharus menjadi sentral akhirnya tergeser.  
Pelayan kaum muda harus mengelola penggunaan musik, gambar, kata dan lainnya untuk suatu bentuk-bentuk yang dapat membawa kaum muda bukan hanya pada rasa senang, tapi kekaguman kepada Tuhan, keindahan yang yang membuatnya bersyukur, dan rasa takluk kepada Tuhan. Kesenangan tentu bukanlah hal yang jahat, tapi ketika kesenangan menggantikan posisi kekaguman kepada Tuhan maka kesenangan itu tidak berarti apa-apa. Brian Cosby mengingatkan pelayan kaum muda bahwa keinginan yang kuat dari kaum muda untuk mengalami kesenangan dan selalu tidak mau susah, tidak boleh diakomodir begitu saja.[9] Mengakomodir rasa senang kaum muda telah membuat pengkhotbah-pengkhotbah lebih sibuk memikirkan tampilan power point, clip art, dan musik latar yang baik, ketimbang studi yang mendalam akan Firman Tuhan yang akan dibawakan. Khotbah hanya menjadi sebuah tampilan yang menarik dan menyenangkan tapi tidak membawa kaum muda pada pengalaman mendengar suara Tuhan berbicara dalam hatinya. Musik yang megah memang dapat membuat sebuah ibadah kaum muda terasa meriah dan otentik bergaya muda, tapi musik itu sendiri sebenarnya bisa membuat kaum muda hanya berhenti pada kondisi ‘senang’ dan ‘enak’ tanpa memberikan suasana batin yang mendalam yang diarahkan kepada Tuhan.
Gereja juga seringkali menjadikan pelayanan kaum muda seperti sebuah “bunker” yaitu tempat perlindungan bagi kaum muda dari pengaruh-pengaruh buruk yang ada di dunia ini.[10] Dalam hal ini Gereja seringkali membelengu ekspresi seni kaum muda nya sehinggga seni tidak lagi menjadi ekspresi otentik dari jamannya.  Gereja bahkan menggunaka bahasa yang berbeda, yang sebenarnya kaum muda yang ada di dalamnya juga tidak pernah mempertanyakan apa arti sesungguhnya. Kaum muda di gereja menerima dan tunduk begitu saja terhadap aturan dan kebiasaan yang ditetapkan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak memahami kehidupan kaum muda.  Ketika ada orang dari luar gereja yang masuk ke dalam untuk bergabung maka mereka akan merasa asing seakan pemuda gereja sedang menggunakan ‘bahasa’ yang berbeda yang mereka tidak mengerti. Mereka menyanyikan lagu yang muncul di abad yang berbeda, gaya bergaul yang tidak biasa, humor yang tidak lucu, pendekatan yang membingungkan, dan prinsip-prinsip yang sama sekali asing buat mereka. Tapi untuk kaum muda gereja sendiri mereka merasa itulah sejatinya kaum muda yang ‘rohani’ , padahal sebenarnya mereka sedang berada dalam kondisi “pura-pura” atau tidak otentik.  Apa yang mereka alami dalam ibadah sebenarnya bukanlah bahasa mereka, bukan musik mereka dan bukan cara mereka berkomunikasi. Tapi mereka menjalaninya seakan itulah ekpresi rohani mereka yang sesungguhnya. Mengenai kondisi ini Mike Yakoneli menyebut hal ini sebagai spiritualitas yang berantakan dan membutuhkan upaya utuk keluar dari kepura-puraan itu dan berhenti menjadi ‘pretender’.[11]
Hal sulit yang dilakukan dalam menjangkau kaum muda adalah sikap yang ke tiga yaitu  infiltrasi dan transformasi.[12]  Walt Mueller menjelaskan justru pelayanan kaum muda justru harus keluar dari “bunker” mereka masing-masing, terlibat langsung di tengah kehidupan kaum muda dengan segala budaya-nya dan membawa pembaharuan.[13] Dalam keterlibatan dengan penggunan seni, maka kaum muda pun seharusnya tidak dikekang ekspresinya dalam bermusik, bertutur, melukis, menulis, tapi seharusnya mereka didampingi untuk menemukan makna yang terasosiasi di dalam bentuk seni itu. Lagu dan gambar bisa dipadukan menjadi cerita yang kuat dalam menghidupkan kebenaran Firman Tuhan. Musik dan drama dapat membuat kaum muda merasakan keindahan yang tidak bisa dirasakan hanya lewat penjelasan verbal logis.
Kesimpulan
Seni adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kaum muda. Melayani kaum muda berarti harus terlibat juga dan mengenali dengan cermat bentuk-bentuk seni yang ada disekitar mereka, sehingga seorang pelayan kaum muda dapat secara efektif menjangakau dan melayani mereka.





[1] Walt Mueller, youth culture 101, Youth specialties,  79
[2]Pamela Erwin,  A critical approach to youth culture, its influence and implication for ministry, Youth specialties, 2010, 53-56.  Dalam studi awal youth culture dilihat sebagai suatu sub-culture yang dimengerti sebagai reaksi sekelompok orang kepada budaya besar yang mendominasinya. Tapi dalam perkembangan berikutnya budaya kaum muda tidak lagi dilihat dalam kerangka “sub-budaya” karena budaya kaum muda tidak lagi dilihat sebagai reaksi kaum muda semata, tapi mereka adalah pelaku aktif dalam pembentukan budaya itu sendiri
[3] Richard Viladesau,  Theology and the art ( Paulis Press: 2000) 38
[4]Shane Hipps. Flickering Pixels. (MI: Zondervan, 2009) 76-77
[5]  Hipps, Flickering pixel,  80
[6] Walt, Mueller, Engaging the soul of youth culture (IVP Books :2006) 46-51
[7] Erwin, A Critical Approach to Youth Clture, 67 - 78
[8] Mueller, Engaging the soul of youth culture, 135-136. Walt Mueler menyederhanakan i 5 tipologi Richard Niebuhr yang merupakan  pendekatan kristen terhadap budaya ke dalam 3 sikap yaitu : accomodation, alienation, dan transformation.  
[9] Brian H Cosby, Giving up Gimmick reclaiming youth minsitry from an entertaiment culture.  36-37
[10] Mueler,l 140
[11] Mike Yaconelly, Messy spirituality (youth specialities: 2002), 26-28
[12] Mueller, 146
[13] Mueller, 157-159

0 komentar:

Posting Komentar